GTPP Cilegon: Industri berperan terhadap minimnya penyebaran COVID-19

Cilegon, (Banten Kita) – Gugus Tugas Percepatan Penanganan( GTPP) COVID-19 Kota Cilegon menilai, peran industri dan dunia usaha di Wilayah Kota Cilegon Banten sangat berpengaruh terhadap penyebaran COVID-19. 

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Sandi dan Statistik (Diskomsantik) sekaligus Juru Bicara Gugus Tugas, Ahmad Azis Setia Ade Putra di Cilegon, Kamis (16/7), menjelaskan upaya  pemerintah bersama dunia usaha dan industri, seperti yang dilakukan PT Krakatau Steel, PLTU Suralaya, pabrik kimia, pabrik gula, dan pabrik-pabrik lainnya dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, serta mencatat mobilitas karyawan, jelas berdampak kepada minimnya penyebaran. 

Kini, kata dia, dalam kurun tujuh hari, grafis penyebaran pun menurun di wilayah ini.

“Kalau melihat data penyebaran COVID-19,  kian hari grafis penderita  positif menurun. Ini artinya bahwa penyebaran COVID-19 di Kota Cilegon dapat diantisipasi dengan baik, karena didukung oleh berbagai pihak, yakni pemerintah, masyarakat, industri, dan dunia usaha,” kata Ahmad Azis.

Azis mengungkapkan, Tim Gugus Tugas dibawah koordinasi Walikota Cilegon, terus berusaha semaksimal mungkin supaya penyebaran virus mendunia tersebut tidak merebak.  

Dia mengakui, upaya berbagai pihak hingga ke tingkat RT, berkontlribusi terhadap minimnya penyebaran. Upaya pencegahan di lingkungan pemukiman masyarakat, lingkungan sekolah, pasar tradisional, tempat-tempat umum lainnya, hingga pengawasan terhadap industri yang berada di  Cilegon cukup optimal.

“Apalagi industri di wilayah ini selalu melakukan penyemprotan desinfektan pada areal kerja dan yang ditempati karyawan,” tambahnya.

Sejak awal penyebarannya di tanah air, tercatat minim korban COVID-19 di wilayah Cilegon. Gugus Tugas mencatat pnderita positif COVID-19 orang berjumlah 38 orang, meninggal 1 orang, sembuh 36 orang, dan saat ini 1 orang masih dirawat di rumah sakit. 

Terhadap protokol kesehatan, Walikota Cilegon Edi Ariadi, dua hari lalu memastikan penerapannya  dalam agenda kunjungannya ke wilayah industri. 

Dia meminta setiap industri untuk patuh menerapkan aturan kenormalan baru sebagai upaya untuk bertahan ditengah pandemi COVID-19 tersebut.

Walikota Edi Ariadi yang didampingi jajaran Forkopimda Pemkot Cilegon, meminta supaya industri lain mencontoh penerapan normal baru PT Chandra Asri Petrochemical.

“Kita ingin melihat kesiapan industri di era normal baru atau adaptasi kebiasaan baru,” kata Walikota.

Di kesempatan berbeda, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon sekaligus Asda III Dana Sujaksani mengungkapkan hal yang sama, selain COVID-19, beberapa penyakit di Kota Cilegon juga minim penyebarannya. 

Ia menjelaskan, ada hal yang menarik dari data kesehatan warga di Cilegon. Di wilayah ini, ISPA atau infeksi saluran pernafasan akut, justru berkurang. Sementara, Hipertensi Essensial (Primer), Faringitis (Radang Tenggorokan), Gastritis (penyakit lambung), Diabetes type 2, Radang Kulit, Selesma, Sindrom Dispepsia (Maag), Peny Pulpa (Gigi) dan Myalgia (Nyeri Otot), menjadi penyakit-penyakit dominan yang diderita banyak warga di Cilegon. Dinas Kesehatan juga mencatat, tak ada kanker paru di sana.  

“Untuk kasus kanker paru atau lainnya tidak ada, jadi 10 penyakit tersebut yang selama ini ada di Kota Cilegon. Kalau penyebab dan pengobatannya pasti tahu semua. Intinya masyarakat harus menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” katanya.

Sementara, Kepala Seksi Pemberantasan Dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Cilegon Dr. Sri Rejeki mengatakan, batuk pada pada balita tahun ini cenderung menurun, dibanding kasus pada medio yang sama tahun lalu. 

Hal itu tak lepas dari kesadaran warga yang meningkat dalam melakukan pola hidup bersih ban sehat. Data Riset Kesehatan Dasar Kemenkes juga menunjukkan, prevalensi kanker di provinsi Banten berada di bawah rata-rata nasional. 

Secara nasional, prevalensi kanker nasional mencapai 1,8 persen. Provinsi Banten ada pada urutan 14 di bawah rata-rata nasional tersebut. 

Masih dari data yang sama, terdapat 12 provinsi dengan prevalensi kanker lebih tinggi dari rata-rata nasional. Daerah Istimewa Yogyakarta berada di urutan pertama, dengan prevalensi kanker mencapai 4,9 persen.  (Sus/Ant)